Megahnya Rumah Sekretaris MA Pemilik Meja Rp 1 Miliar
Berbagi informasi terkini dari detikcom bersama teman-teman Anda
"Cari siapa? Kalau cari Bapak ke kantor saja," kata satpam rumah kepada detikcom yang hendak bertamu, Selasa (30/10/2012).
Rumah ini tepat berada di sudut perempatan menghadap ke barat. Di depan rumah terpasang beton besar supaya tidak ada kendaraan parkir di depan rumah. Sepanjang Jl Hang Lekir V berdiri bangunan serupa yang cukup megah.
Rumah Nurhadi ini hanya sepelemparan batu dari pusat belanja Senayan City. Di depan rumah tersebut terdapat taman dan sering untuk parkir kendaraan dinas Toyota Camry beserta kendaraan voorijder.
"Saya tidak terlalu kenal dengan pemilik rumah, kenalnya sama penjaga rumah dan ajudan-ajudannya," kisah seorang tukang parkir yang biasa mangkal di kawasan tersebut, Soleh.
Nama Nurhadi mencuat saat Ketua Muda MA bidang Pidana Khusus Djoko Sarwoko menyebut pejabat eselon I itu menyulap ruang kerja di MA dengan biaya sendiri. Bahkan seperangkat mejanya bernilai Rp 1 miliar.
"Itu meja, duitnya sendiri. Karena Nurhadi punya usaha sarang burung walet, bukan memakai anggaran MA. Nurhadi itu sudah berbuat banyak demi lembaga ini. Saya karena ikut membina Nurhadi, saya ikut sakit hati juga dia difitnah seperti ini," kata Djoko Sarwoko.
Merujuk pada data di sudut Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) di bagian informasi publik di kantor Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), di Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, yang diakses pada Senin (29/10) kemarin, tercantum nama Nurhadi sebagai penyelenggara negara yang wajib melaporkan kekayaannya.
Dalam data itu tertulis tanggal 6 Januari 2012 sebagai tanggal wajib lapor. Dan ternyata sampai data itu diakses pada hari Senin, atau 10 bulan berselang sejak dia wajib lapor, Nurhadi tercatat belum pernah melaporkan kekayaanya.
Hingga berita ini diturunkan, detikcom terus berusaha menghubungi Nurhadi baik telepon maupun SMS, tetapi belum mendapat jawaban. Nurhadi saat ini berada di Manado dalam rangka Rakernas MA.
(asp/nrl)
Warga Sebut Polisi Sudah Lama Intai Terduga Teroris di Palmerah
JakartaDensus 88 melakukan penggerebekan di kontrakan terduga teroris, di Jalan Kemanggisan Pulo C1/59, Palmerah, Jakarta Barat. Menurut warga sekitar Kusmanto (34), sebelum aksi penggerebekan terjadi, polisi sudah lama mencari informasi di lokasi penggerebekan."Tiga atau empat hari yang lalu, ada intel nanya-nanya, tapi dia bilangnya mau cek pajak STNK. Tadi pas penggerebekan ketemu lagi intelnya," kata tetangga terduga teroris, Kusmanto (34), di Jalan Kemanggisan Pulo, Palmerah, Jakarta Barat, Sabtu (27/10/2012).
Ia menuturkan, terduga teroris Narto, baru satu minggu tinggal di kontrakan yang saat dilakukan penggerebekan oleh polisi dalam keadaan kosong. Narto sebelumnya tinggal sekitar 200 meter dari kontrakan yang sekarang.
"Mereka sebelumnya tinggal di Gang C1/102, Palmerah, Jakarta Barat selama enam bulan. Kalau (Narto) berangkat kerja bilang permisi, pagi jam 09.30 berangkatnya. Pulang kerjanya kadang Isya, kadang pukul 22.00 WIB malam," kata Kusmanto menceritakan soal terduga teroris, Narto.
Menurutnya, terduga teroris lain, Herman, yang tertangkap di Jalan Palmerah Barat 2 nomor 24, RT 003 RW 09, Palmerah, sering berkunjung ke rumah Narto. Entah apa yang dibicarakan keduanya, namun menurutnya Herman datang membawa buku.
"Herman yang tertangkap di sebelah, sering ke sini. Dia datang bawa ransel isinya saya pernah lihat buku. Kita dulu waktu bantuin ngangkutin barang-barang pindahan juga nggak ada barang-barang mencurgikan. Tapi di dalam saya sempat baca ada tempelan tulisannya tentang berjihad yang benar," ungkapnya.
"Saya nggak nyangka, kaget juga saya (ada penggerebekan hari ini)," imbuhnya.
Di Palmerah, polisi berhasil mengamankan tiga terduga teroris, yaitu Azhar, Herman, dan Narto. Barang bukti yang berhasil disita adalah bahan-bahan untuk pembuatan dan perakitan bom.
0 komentar:
Posting Komentar